Batu | Serulingmedia.com – Kota Batu genap berusia 24 tahun pada 17 Oktober 2025. Mengusung tema “Sedoyo SAE” (Semua Harus Baik), peringatan hari jadi kali ini menjadi momentum refleksi bagi seluruh elemen pemerintahan dan masyarakat untuk menatap masa depan kota wisata ini dengan semangat baru dan arah pembangunan yang berkelanjutan.
Setiap peringatan hari ulang tahun daerah sesungguhnya bukan hanya tentang kemeriahan dan pesta rakyat. Usia yang belum terlalu tua, namun sudah cukup matang untuk menilai sejauh mana arah pembangunan dan kesejahteraan masyarakatnya tercapai.
Wakil Ketua II DPRD Kota Batu dari Fraksi PKS, Ludi Tanarto, SP, menegaskan bahwa peringatan ulang tahun daerah bukan hanya ajang seremonial, tetapi sarana evaluasi terhadap capaian dan tantangan pembangunan ke depan.
“HUT ke-24 ini menjadi saat yang tepat untuk melihat apa yang sudah kita capai, sekaligus menyiapkan langkah yang lebih matang untuk tahun-tahun berikutnya. Batu sudah banyak berprestasi, tapi masih banyak pula yang harus kita perbaiki,” ujarnya.
Menurut Ludi, Kota Batu telah menunjukkan kemajuan signifikan di berbagai sektor. Pertumbuhan ekonominya berada di atas rata-rata kota lain di Jawa Timur. Sektor pariwisata tumbuh pesat menjadikan Batu sebagai salah satu destinasi utama di Indonesia dan menjadi penopang utama perekonomian masyarakat. Pembangunan infrastruktur hampir merata di seluruh desa membuka akses dan peluang baru bagi masyarakat, serta tingkat pendidikan warga yang terus meningkat dari tahun ke tahun, menjadi penanda bahwa sumber daya manusia di Batu semakin siap menghadapi tantangan masa depan.
Refleksi hari jadi ini juga perlu menjadi titik tolak untuk melihat persoalan yang belum terselesaikan. Keberhasilan dalam pembangunan fisik dan ekonomi tidak boleh membuat kita abai terhadap keberlanjutan lingkungan dan kemandirian daerah.
Ludi menyoroti pentingnya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) agar kemandirian fiskal Kota Batu yang kini baru sekitar 25 persen bisa lebih optimal. Artinya, ketergantungan pada transfer pusat masih cukup besar.
Selain itu, isu lingkungan menjadi tantangan nyata. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Kota Batu turun drastis — dari peringkat 7 nasional pada 2023 menjadi 131 nasional pada 2024.Menunjukkan adanya tekanan ekologis yang harus segera diatasi. Pengelolaan sampah dan tata ruang hijau perlu mendapat prioritas agar wajah pariwisata Batu tidak ternoda oleh problem lingkungan. Ini sebuah peringatan dini yang menegaskan bahwa Batu mulai kehilangan keseimbangannya.
Selain itu, peningkatan kualitas pelayanan publik dan kemudahan birokrasi perizinan dinilai menjadi kunci agar investor tertarik menanamkan modal di Kota Batu. Investor hanya akan datang bila birokrasi ramah, cepat, dan transparan. “Kita harus ciptakan birokrasi yang cepat dan ramah, agar dunia usaha merasa nyaman berinvestasi di sini,” imbuhnya.
Ludi juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas bangunan dan prasarana publik yang dibangun dengan dana rakyat benar-benar tahan lama dan bermanfaat bagi generasi berikutnya. Bukan hanya dari sisi estetika, tetapi juga ketahanan dan umur pakai agar pembangunan lebih efisien dan berkelanjutan.
Lebih jauh, Ludi menafsirkan tema “Sedoyo SAE” sebagai panggilan moral bagi seluruh komponen masyarakat Kota Batu.
“Sedoyo SAE bukan sekadar slogan, tapi tekad bersama agar semua aspek kehidupan di Kota Batu benar-benar baik — dari pemerintahannya, masyarakatnya, hingga lingkungannya,” tegasnya.
Ia berharap, di usia ke-24 tahun ini, seluruh elemen pemerintah dan masyarakat dapat bersinergi menciptakan Kota Batu yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menyejahterakan seluruh warganya.
“Mari jadikan ulang tahun ini sebagai momentum untuk menata diri dan memperkuat komitmen bersama. Kota Batu harus terus melangkah menuju masa depan yang lebih mandiri, bersih, dan berdaya saing. Itulah makna sejati dari Sedoyo SAE,” pungkasnya.
Pada akhirnya, Kota Batu yang “Sedoyo SAE” hanya akan terwujud jika ada sinergi antara visi pemerintah, kerja nyata legislatif, dan kesadaran masyarakat. HUT ke-24 ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan arah pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga keberlanjutan dan kesejahteraan. Batu harus terus melangkah, dengan semangat gotong royong dan tekad bersama untuk menjadikan kota ini bukan sekadar indah dipandang, tetapi juga memberi kehidupan yang baik bagi seluruh warganya.( Eno ).
